Menjadi Berbeda

Entah sejak kapan gaya hidup ‘be different’ menjadi semacam pakaian sehari-hari yang kita kenakan. Entah sejak kapan motto yang terlihat amat keren ini menjadi semacam dompet yang tak boleh ketinggalan saat kita mulai melangkah keluar rumah. Entah sejak kapan pula kita mulai resah bilamana terlihat biasa-biasa saja.

Wahai, andai saja kau tahu bahwa ada banyak hal yang akan kau korbankan jika kau menjadi berbeda. Kau tak akan lagi bisa melihat sesuatu sama persis seperti dulu ketika kau masih sama dengan yang lain, semuanya akan berbeda. Kau tak akan bisa berbicara seenak mulutmu lagi sama seperti ketika kau masih sama dengan yang lain, semuanya akan berbeda. Kau tak akan bisa. Kenapa? Karena akan banyak orang yang tak akan memahami perkataanmu, apa yang kau maksud, apa yang kau rasakan. Karena kau tak sama dengan yang lain, karena kau berbeda.

Wahai, tidak selamanya menjadi berbeda adalah hal yang baik dan keren. Tidak. Semakin kau menjadi berbeda maka akan semakin banyak orang yang tidak bisa memahamimu. Be different’ is not the same with ‘be yourself’. Kau tidak harus menjadi seseorang yang berbeda untuk menjadi dirimu sendiri. Untuk menjadi dirimu sendiri kau tidak harus memisahkan dirimu dengan yang lain. To be different is lonely journey, but to be yourself is warm and harmonious journey.

Wahai, ku harap kau akan berpikir ulang kembali sebelum memutuskan untuk menjadi berbeda. Agar ketika kau tersenyum, akan ada orang yang tahu arti dibalik senyummu. Agar ketika kau menangis, akan ada orang yang tahu arti dibalik tangismu.

Advertisements

Kehidupan

Aku rasa sekarang benar adanya jika dunia sudah tidak bisa lagi diperbaiki dengan motif dan dengan cara yang baik. Karena ketika dulu omongan seperti “Manusia itu terlahir dengan segala kebaikan yang ia punya, maka dari itu seharunya manusia lebih mudah melakukan kebaikan daripada kejahatan.”, masih bisa menjadi pemicu orang-orang untuk berbuat baik, tapi tidak rasanya sekarang. Seperti ketika orang yang sama tidak juga mengerti kesalahan yang dibuatnya ketika kita menegurnya dengan lembut dan lirih diiringi senyuman penuh maaf, maka akan ada waktunya mau tidak mau kita menegurnya dengan kata-kata tajam dan tamparan di wajah. Seperti itu juga mungkin keadaan yang terjadi sekarang. Sudah cukup berbasa-basi, sudah cukup menunjukkan persona baik yang tidak semua orang bisa menghargai.

Jikalah kita sadar bahwa Adam dan Hawa diturunkan ke bumi ini sebab perbuatan yang tidak seharusnya mereka lakukan di surga, hidup di dunia ini sejatinya adalah sebuah hukuman. Ibaratnya dunia ini adalah penjara, dan semua orang tergeneralisasi sebagai seorang kriminal. Maka apa yang seharusnya kita lakukan di penjara? Terus berbuat hal-hal buruk dan saling menjatuhkan satu sama lain? Menganggap diri kita lebih baik dari orang lain? Tidak mungkin. Semua orang yang masuk di penjara adalah sama-sama seorang kriminal, tak peduli besar kecilnya kejahatan, semuanya sama – seorang kriminal. Yang selayaknya kita lakukan adalah berusaha melakukan kebaikan, mengingatkan satu sama lain agar tidak melakukan keburukan yang bisa menambah beban hukuman, berusaha membuktikan diri bahwa kita layak diampuni sebelum naik banding, berusaha menjadi orang baik-baik kembali sama seperti dulu ketika Adam dan Hawa masih di tinggal di surga.

Tidak semua orang akan memahami ini, pun tidak  semua orang akan menganggap ini penting. Sudut pandang ini mungkin terlalu ekstrim dan terlihat sangat membebani. Pun juga ini sangat relatif, tidak ada yang namanya fakta, yang ada hanyalah interpretasi – kata Nietzsche yang hampir 99% aku setuju betul. Tapi kehidupan memang berat sayang. Tidak hanya hidupmu atau hidupku saja, hidup semua orang berat, aku berani bertaruh soal ini. Yang penting adalah tidak masalah kau setuju atau tidak denganku, tapi kau harus paham juga soal ini. Entah pahammu karena kau membaca ini atau entah esok yang kapan ketika kau sedang menyeruput kopi panas di siang bolong, tapi kau harus paham. Agar kau tahu mengapa kau hidup, agar kau tahu kau harus bagaimana menjalani kehidupan.

Relativitas Rasa

Hari ini, sang gadis mengenakan celana jins biru dan kemeja kotak-kotak hijau yang kebersaran. Sebenarnya bukan karena memang gayanya seperti itu, tapi ia terlalu malu untuk menampakkan lekuk tubuhnya yang tidak berlekuk. Pinggangnya tak ramping seperti punya gadis di sebelahnya, warna kulitnya juga tak  seterang gadis di depannya. Caranya menutupi rambutnyapun tak seindah gadis-gadis masa kini. Gadis ini terlalu biasa untuk bisa menarik perhatian. Tapi itulah yang sebenarnya sang gadis butuhkan untuk bisa memperhatikan orang lain disekitarnya.

Hari ini, sang lelaki di ujung ruangan juga memakai kemeja hijau. Warna hijaunya sedikit lebih gelap dari yang dikenakan sang gadis. Tapi itu tak jadi masalah, yang penting sama-sama dikatakan hijau. Sang lelaki duduk terpaku tak sedetikpun mengalihkan pandangan pada layar kotak di depannya. Sang lelaki sama sekali tak merasakan getaran lain di ujung lain ruangan ini. Entah sang lelaki terlalu sibuk dengan dunianya, entah getaran itu yang tidak sampai padanya.

2 jam berlalu. Sang gadis mulai gelisah. Matanya semakin tak bisa lepas untuk terus melongok ke ujung lain ruangn ini. Jemari kakinya tak bisa diam, tangannya menyentuh tombol-tombol keyboard sekenanya. Kepalanya memikirkan banyak hal. Apalagi hatinya yang berdegup seperti sedang berdansa diiringi musik disko yang kencang. Tapi sang lelaki masih diam tak bergerak dari duduknya.

Hari ini adalah hari kesekian sejak hari itu. Hari dimana matanya menemukan sesuatu yang tak biasa. Seraut wajah yang tanpa sadar membuatnya tersenyum sepanjang hari. Sebuah senyum tipis yang membuat matanya tak pernah terpejam dengan mudah di malam hari. Sekilas pandangan yang membuat detak jarum jam terasa amat lambat dibandingkan detak jatungnya. Hari dimana esoknya sang gadis terlambat masuk kelas karena terlalu lama memilih pakaian apa yang akan ia kenakan.

Sayangnya, seseorang yang membuat dunia sang gadis seolah berputar lebih cepat dan kadang sekaligus lebih lambat tak menyadari hal itu. Sang lelaki tetap menjadi lelaki yang selalu sama setiap harinya sejak hari itu. Tak ada yang berubah dalam dunia sang lelaki. Sang lelaki selalu berjalan dalam tempo yang sama, tak pernah merasa terlalu cepat atau terlalu lambat. Sang lelaki masih selalu datang tepat waktu ke kelas. Sang lelaki masih terlihat jarang tersenyum. Sang lelaki masih merasa jarum berdetak dengan semestinya. Semua masih terlihat sama pada dan oleh sang lelaki.

Apa yang terjadi? Apa yang salah?

Tak ada yang salah. Semua baik-baik saja. Yang terjadi hanyalah perbedaan rasa antara yang sang gadis dan sang lelaki rasakan. Rasa yang dianggap sang lelaki masih sama sejak pertama kali bertemu dengan sang gadis. Rasa yang dipandang dengan pandangan yang masih sama dengan awal dulu. Rasa yang tidak berubah. Namun, rasa yang dianggap sang gadis mulai berubah sejak hari itu. Rasa yang dipandang dengan pandangan yang berbeda sejak hari itu. Rasa yang mulai terlihat lain. Rasa yang indah. Rasa cinta. Rasa yang selalu relatif.

Cerita Tentang Seorang Pemuda

Tak ada gerakan. Hanya matanya saja yang jauh menerawang ke suatu penjuru. Walaupun begitu napasnya naik turun tak menentu. Napasnya berat. Mungkin seberat angan-anggannya yang terseok terus naik ke hamparan langit mimpi. Semakin lama tentu semakin berat saja, tak mampu mengalahkan gravitasi kenyataan yang begitu besar. Tapi begitu ia terus mencoba.

Lelah, ia menundukkan pandangan. Pikirannya kembali kacau. Ia sudah berusaha sekuat apapun, akhirnya terhempas juga angan yang tumpul itu. Bajunya sudah kusut itu jadi terlihat semakin kusut. Tangannya meremas angan yang sudah jatuh berserakan. Napasnya tak lagi berat, bahkan lebih terlihat tak ada angin yang dibuang. Sorot matanya kembali hampa, pasrah menerima kenyataan yang dilihatnya.

Hidup ini memang begini. Kenyataan tak mesti bisa seindah angan. Pasti ada sebatas jarak yang menjembatani. Terlebih baginya. Seorang pemuda yang terduduk sendiri di pojokan. Seorang pemuda yang amat berbeda dari pemuda-pemuda lainnya. Seorang pemuda yang hanya bisa mengamati dan membayangkan. Seorang pemuda yang hanya bisa merasakan indah dunia sebatas pandangan dan suara. Tapi hatinya tetap sama, kosong. Seorang pemuda yang akhirnya beranjak mendorong kembali troli semen bangunan yang kosong untuk bisa diisi kembali.