Relativitas Rasa

Hari ini, sang gadis mengenakan celana jins biru dan kemeja kotak-kotak hijau yang kebersaran. Sebenarnya bukan karena memang gayanya seperti itu, tapi ia terlalu malu untuk menampakkan lekuk tubuhnya yang tidak berlekuk. Pinggangnya tak ramping seperti punya gadis di sebelahnya, warna kulitnya juga tak  seterang gadis di depannya. Caranya menutupi rambutnyapun tak seindah gadis-gadis masa kini. Gadis ini terlalu biasa untuk bisa menarik perhatian. Tapi itulah yang sebenarnya sang gadis butuhkan untuk bisa memperhatikan orang lain disekitarnya.

Hari ini, sang lelaki di ujung ruangan juga memakai kemeja hijau. Warna hijaunya sedikit lebih gelap dari yang dikenakan sang gadis. Tapi itu tak jadi masalah, yang penting sama-sama dikatakan hijau. Sang lelaki duduk terpaku tak sedetikpun mengalihkan pandangan pada layar kotak di depannya. Sang lelaki sama sekali tak merasakan getaran lain di ujung lain ruangan ini. Entah sang lelaki terlalu sibuk dengan dunianya, entah getaran itu yang tidak sampai padanya.

2 jam berlalu. Sang gadis mulai gelisah. Matanya semakin tak bisa lepas untuk terus melongok ke ujung lain ruangn ini. Jemari kakinya tak bisa diam, tangannya menyentuh tombol-tombol keyboard sekenanya. Kepalanya memikirkan banyak hal. Apalagi hatinya yang berdegup seperti sedang berdansa diiringi musik disko yang kencang. Tapi sang lelaki masih diam tak bergerak dari duduknya.

Hari ini adalah hari kesekian sejak hari itu. Hari dimana matanya menemukan sesuatu yang tak biasa. Seraut wajah yang tanpa sadar membuatnya tersenyum sepanjang hari. Sebuah senyum tipis yang membuat matanya tak pernah terpejam dengan mudah di malam hari. Sekilas pandangan yang membuat detak jarum jam terasa amat lambat dibandingkan detak jatungnya. Hari dimana esoknya sang gadis terlambat masuk kelas karena terlalu lama memilih pakaian apa yang akan ia kenakan.

Sayangnya, seseorang yang membuat dunia sang gadis seolah berputar lebih cepat dan kadang sekaligus lebih lambat tak menyadari hal itu. Sang lelaki tetap menjadi lelaki yang selalu sama setiap harinya sejak hari itu. Tak ada yang berubah dalam dunia sang lelaki. Sang lelaki selalu berjalan dalam tempo yang sama, tak pernah merasa terlalu cepat atau terlalu lambat. Sang lelaki masih selalu datang tepat waktu ke kelas. Sang lelaki masih terlihat jarang tersenyum. Sang lelaki masih merasa jarum berdetak dengan semestinya. Semua masih terlihat sama pada dan oleh sang lelaki.

Apa yang terjadi? Apa yang salah?

Tak ada yang salah. Semua baik-baik saja. Yang terjadi hanyalah perbedaan rasa antara yang sang gadis dan sang lelaki rasakan. Rasa yang dianggap sang lelaki masih sama sejak pertama kali bertemu dengan sang gadis. Rasa yang dipandang dengan pandangan yang masih sama dengan awal dulu. Rasa yang tidak berubah. Namun, rasa yang dianggap sang gadis mulai berubah sejak hari itu. Rasa yang dipandang dengan pandangan yang berbeda sejak hari itu. Rasa yang mulai terlihat lain. Rasa yang indah. Rasa cinta. Rasa yang selalu relatif.

Advertisements

Cerita Tentang Seorang Pemuda

Tak ada gerakan. Hanya matanya saja yang jauh menerawang ke suatu penjuru. Walaupun begitu napasnya naik turun tak menentu. Napasnya berat. Mungkin seberat angan-anggannya yang terseok terus naik ke hamparan langit mimpi. Semakin lama tentu semakin berat saja, tak mampu mengalahkan gravitasi kenyataan yang begitu besar. Tapi begitu ia terus mencoba.

Lelah, ia menundukkan pandangan. Pikirannya kembali kacau. Ia sudah berusaha sekuat apapun, akhirnya terhempas juga angan yang tumpul itu. Bajunya sudah kusut itu jadi terlihat semakin kusut. Tangannya meremas angan yang sudah jatuh berserakan. Napasnya tak lagi berat, bahkan lebih terlihat tak ada angin yang dibuang. Sorot matanya kembali hampa, pasrah menerima kenyataan yang dilihatnya.

Hidup ini memang begini. Kenyataan tak mesti bisa seindah angan. Pasti ada sebatas jarak yang menjembatani. Terlebih baginya. Seorang pemuda yang terduduk sendiri di pojokan. Seorang pemuda yang amat berbeda dari pemuda-pemuda lainnya. Seorang pemuda yang hanya bisa mengamati dan membayangkan. Seorang pemuda yang hanya bisa merasakan indah dunia sebatas pandangan dan suara. Tapi hatinya tetap sama, kosong. Seorang pemuda yang akhirnya beranjak mendorong kembali troli semen bangunan yang kosong untuk bisa diisi kembali.

Pada Sebuah Karakter

Sudah berhari-hari lalu aku menuntaskan sebuah drama untuk dilihat. Ceritanya sama sekali tidak romantis. Kau ingin tahu apa ceritanya? Tentang pengungkapan sebuah peristiwa pembunuhan. Yah, genrenya memang tidak romantis, tapi aku tetap bisa menyebutnya sebagai salah satu cerita roman, karena bisa membuatku jatuh cinta.

Aku jatuh cinta. Yah aku benar-benar jatuh cinta pada sebuah karakter yang dimaninkan disana. Aku jatuh cinta pada bagaimana sang karakter berbicara pada lawan bicaranya. Aku jatuh cinta pada setiap kata yang diucapkan oleh sang karakter . Aku jatuh cinta pada setiap pemikiran-pemikiran tak terduga sang karakter. Aku jatuh cinta pada bagaimana klasiknya ia tersenyum saat ia merasa bahagia. Aku jatuh cinta pada bagaiamana ia menunduk menyembunyikan rasa sedihnya. Aku jatuh cinta semuanya pada bagaimana ia mengekspresikan dirinya. Aku jatuh cinta pada jati diri sang karakter.

Sampai sekarang setelah berhari-hari pun aku masih memikirkan sang karakter. Aku masih tersenyum-senyum sendiri megingat kata-kata puitis sang karakter. Oh, aku benar-benar serasa sedang jatuh cinta. Yah benar, aku memang jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada sebuah karakter, bukan pada sebuah fisik. Dan aku suka aku yang jatuh cinta seperti ini, karena karakter tidak cepat pudar. Tak peduli bagaimana fisiknya akan berubah lambat laun nanti, tapi sebuah karakter akan terus ada pada fisik yang mulai berubah itu. Dan..

Dan kau yang disana, jangan takut lagi. Kau tahu bagaimana aku akan mencintaimu kan?

Lelaki Yang Sama (1)

Dia sungguh menarik… Kemarin akhirnya dia mengajakku bertemu setelah sekian lama kita hanya ber-chat ria, dan dia jauh lebih mengasyikkan dari pada pesan yang selama ini aku tunggu-tunggu. Selera humornya baik, baik sekali malah. Senyumnya itu, ah, buat mabuk kepayang, manissssss sekali. Kapan ya, aku bisa bertemu lagi dengannya? Apa aku yang harus mengajaknya keluar duluan? Mmmm, rasanya senang sekali akhirnya bisa bertemu dengannya. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta dengannya.

Aku hanya bisa tersenyum melihatmu sebahagia ini. Kau tak pernah membicarakan seseorang dengan ekspresi semenarik dan seceria ini. Ah, mungkin benar teman, kau pastilah sedang jatuh cinta kali ini. Dan aku tak ingin menjadi penghalang untuk cintamu kali ini. Aku akan tetap menjadi pagar yang menjaga agar cintamu tetap tumbuh teman. Aku janji.

Tapi Tuhan, aku juga meminta padamu kali ini untuk membantuku memenuhi janjiku. Aku sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa selama ini, dan aku ingin terus melakukannya sampai semua ini berakhir; berakhir bahagia, paling tidak baginya.